Dulu sekali,
kau pernah dengan rutin
berkirim kabar denganku.
Bercerita remeh temeh,
tentang kopi yang tumpah.
Dulu sekali,
Jarak menjadi media imajinasi kita,
seandainya kau disini, atau aku disana.
Dulu sekali,
Menjadi bocah adalah kegemaran kita
Riang sekali menyambut hujan
Menari-nari lupa usia
Lalu kini ?
Hujan hanya memberi perih pada tetesnya dilenganku
Ketakutan sekali setiap kuselami jarak
Dan kabar tentangmu,
hanya menghancurkanku untuk hitungan yang tak kuingat lagi
Senandung Rasa
Minggu, 09 Oktober 2016
Rabu, 18 November 2015
Seperti Seharusnya
Cinta itu tak ingin air mendamba api
Yang membuat api itu mati atau air menjadi tak berarti
Cinta itu tak merebut matahari dari senja
Namun bukan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Cinta itu hanya mencintaimu seperti apa cinta seharusnya
Yang membuat api itu mati atau air menjadi tak berarti
Cinta itu tak merebut matahari dari senja
Namun bukan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Cinta itu hanya mencintaimu seperti apa cinta seharusnya
Rabu, 04 November 2015
Kepadamu
Hai masa lalu,
Kulantunkan lagi kisahmu.
Bukan untuk apa,
perihmu tak terperi.
Bukan untuk siapa,
kau melekat pada setiapnya.
Kulantunkan
untuk nada merdu disetiapmu.
Kulantunkan
untuk rima maha bijaksana.
Kulantunkan
untuk syair indah kala itu.
Takkan kuhadirkan lagi dikinianku
Takkan pula lenyap begitu
Akan ditempat itu saja
Pada dimensi itu saja
Hanya,
satu atau dua petang kemudian
kau kukenang kembali.
Kulantunkan lagi
Bukan untuk apa
Bukan untuk siapa
Kulantunkan lagi kisahmu.
Bukan untuk apa,
perihmu tak terperi.
Bukan untuk siapa,
kau melekat pada setiapnya.
Kulantunkan
untuk nada merdu disetiapmu.
Kulantunkan
untuk rima maha bijaksana.
Kulantunkan
untuk syair indah kala itu.
Takkan kuhadirkan lagi dikinianku
Takkan pula lenyap begitu
Akan ditempat itu saja
Pada dimensi itu saja
Hanya,
satu atau dua petang kemudian
kau kukenang kembali.
Kulantunkan lagi
Bukan untuk apa
Bukan untuk siapa
Selasa, 03 November 2015
Cerita Senja
Berkali elang itu tunduk dikaki langit
meminta senja tak berlalu,
atau membiarkan ia menyertai kemanapun
Elang merajuk;
Ambilah satu sayapku
agar kau percaya
Relakan yang lain, untuk dapat
ku tertatih mengikutimu
Senja bergeming.
Ilalang bertanya;
Mengapa tak kau iyakan saja ?
Senja bilang;
Ia ditakdirkan untuk terbang
dengan dua sayapnya.
Menyingkap misteri siang
yang menyertai pagi.
Melewati malam
dengan deru-deru kehampaannya.
Takdirnya untuk terbang
Bukan hidup untuk menantiku
Lalu mati bersama tenggelamnya aku.
Jumat, 30 Oktober 2015
Senja yang Hujan
Petang ini, dua hal yang kusuka
Senja dan hujan
Tapi ada yang tak kusuka,
Hadirnya guntur tanpa kehadiranmu ..
Kamis, 13 Agustus 2015
niscaya
Kupajang larik-larik laraku
Setelah debu-debu siksamu
kau tempakan dipusara jiwa.
Mencintaimu masih niscaya ..
Setelah debu-debu siksamu
kau tempakan dipusara jiwa.
Mencintaimu masih niscaya ..
Langganan:
Komentar (Atom)